tebing's posts with tag: kumcer saku
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | FLP Depok |
Menerbitkan buku buat gue bukan suatu hal yang baru. Sejak 2005 udah 2 buku yang gue tulis sendiri. 2 buku gue tulis berdua. Dan sisanya antologi bersama. Tapi nggak semuanya memberikan gue kepuasan. Mungkin Cuma buku Ella & Sepatu Kaca aja yang cukup memberikan kepuasan dari materi cerita sampai dengan kemasan bukunya. Cuma untuk penyuntingan, ada beberapa yang oleh editor dihilangkan, padahal gue ngerasa bagian itu yang paling penting.
Dari pengalaman ini gue punya cita-cita, seandainya aja gue bisa menerbitkan buku sendiri… selain karena bisa terbebas dari interpretasi keliru dari editor sehingga menghilangkan bagian yang kita anggap penting tanpa mendiskusikannya lebih dahulu, gue bisa menerbitkan karya sesuai dengan yang gue inginkan, nggak perlu mikirin selera pasar. Kalo nanti bukunya nggak laku? BODO amat!
Selama ini karya-karya FLP yang wara-wiri di pasaran sering dipandang sebelah mata oleh pembaca atau komunitas sastra lainnya, karena dianggap kacangan. Jujur aja gue geregetan karena menurut gue penulis-penulis FLP itu nggak kacangan! Hanya aja persoalannya, ruang yang dikasih sama penerbit buku-buku islami ya untuk karya-karya yang sangat mempertimbangkan selera pasar, bukan berdasarkan pertimbangan kualitas karya sastra. Dan sebagian anggota FLP sepertinya alergi kalo udah nyebut-nyebut sastra. Seolah-oleh kata sastra sesuatu yang terlalu tinggi buat mereka. Padahal buat gue, sastra nggak seagung itu. Biasa aja. Kayak lontong sayur atau nasi uduk yang gue makan setiap pagi.
Nah dari situlah mimpi gue bermula. Gue pengen banget nerbitin karya FLP yang bisa dipandang dari segi kualitas. Selama ini cukup banyak anak FLP yang eksis di Koran. Tapi seperti yang gue bilang tadi, penulis-penulis yang eksis di Koran ini seperti nggak mendapat perhatian dari kalangan FLP sendiri. Buktinya, kalo ada anugerah pena untuk cerpen aja misalnya, karya-karya yang nota bene diakui kualitasnya oleh redaktur sastra Koran, nggak mendapatkan tempat. Cuma cerpen-cerpen yang nampang di buku aja yang dikasih penghargaan. Padahal seperti yang udah gue sampein di atas, buku-buku yang beredar di pasaran selama ini sangat memperhatikan selera pembaca. Jadi walau kualitasnya jelek, tapi kalo diserap pasar, itu yang dianggap bagus!
Dengan semangat do it yaour self, gue ngumpulin karya FLP Depok yang cukup pantas dianggap berkualitas dalam sebuah buku antologi bersama. Dan menerbitkannya dalam bentuk kumcer saku. Walaupun Cuma fotocopian, tapi kualitasnya nggak bikin sakit mata siapa pun yang membacanya. Karena hampir sama aja sama dengan kualitas percetakan. Buku ini sekaligus menjadi antologi bersama FLP depok yang pertama sejak era Koko Nata!
Dalam buku setebal 52 halaman ini terangkum 6 judul cerpen: 1. MAYRA karya Denny P alias gue sendiri 2. SEPASANG MATA UNTUK CINTA YANG BUTA karya Nurhadansyah 3. RENDANG DAGING karya Hamzah Fuadi Ilyas 4. CANDIDAS karya Ratna Chandra Sari 5. SEJENAK CINTA karya Koko Nata 6. RUMAH SINGGAH karya Norat Dillafah alias Ratno Fadillah
Tema-teman dalam buku ini sangat beragam. Dan sangat unik. Dalam cerpen MAYRA, gue coba menghidupkan tokoh fiksi bernama Mayra dalam cerpen Melukis Jendela karya Djenar Maesa Ayu yang mengugat penulisnya sendiri. Sedangkan dalam SEPASANG MATA UNTUK CINTA YANG BUTA, Nurhadiansyah secara implicit menyampaikan pada pembacanya kalo mau mengenal cinta harus punya mata. Begitulah Cinta mendapatkan mata dari Ratih, pembantu yang selama ini merawatnya, orang yang mencintainya dan dicintainya. Dalam cerpen RENDANG DAGING, Hamzah Fuadi cukup piawai memunculkan ironi. Tentang keluarga miskin yang ingin makan daging di hari raya. Tapi setelah segala usaha bertemu kegagalan, lelaki itu membunuh seekor anjing dan memberikan dagingnya kepada keluarganya. Begitulah akhirnya pada malam hari, dia menemukan keluarganya telah berubah menjadi seekor anjing setelah memakan daging yang dibawanya. Dalam cerpen CANDIDAS, Ratna mencoba menghidupkan jamur sebagai tokoh cerita. Dalam cerita ini, Ratna berhasil mengaplikasi keilmuannya di bidang farmasi ke dalam sebuah cerita. Dalam SEJENAK CINTA, Koko Nata mencoba mengkritisi fenomena nikah mut’ah alias kawin kontrak. Sedangkan dalam RUMAH SINGGAP, Norat Dillafah berhasil menghadirkan satire lewat pemamparan tokoh anak jalanan.
Cerpen-cerpen dalam kumcer saku yang gue kasih judul: SEPASANG MATA UNTUK CINTA YANG BUTA ini insya Allah keluar dari mainstream karya FLP yang selama ini beredar di pasaran. Cerpen-cerpen dalam buku ini berbicara nilai islami secara universal. Dan Insya Allah akan merubah imej karya FLP yang selama ini selalu berkutet di seputar tema mendapat hidayah. Tema hidayah bukannya buruk untuk diangkat dalam sebuah cerita, tapi penggarapan serta kurangnya pendalaman tokoh dan seting membuat karya-karya FLP selama ini dicurigai kurang bermutu. Padahal gue percaya, penulis-penulis FLP sangat bermutu, sendainya aja cukup ruang buat mereka mempublikasikan karyanya yang bermutu itu!
Oya, setelah buku ini selesai, gue lagi bikin satu lagi judulnya ROMANSA DI KAMPUNG LAUT. Ada 6 cerpen yang bertutur hubungan orangtua dan anaknya, karya dari 3 penulis FLP Depok yang patut dibaca dalam buku ini. Insya Allah nggak kalah berkualitas. Jadi buat siapa pun yang berminat membeli buku-buku kami, bisa menghubungi saya di 08881425763. harga bukunya antara 3000-3500 saja untuk yang mau datang langsung ke Rumah Cahaya di Jalan Keadilan Raya no 13 Depok Timur (dari terminal depok naik D02 turun di depan Rumah Cahaya dekat jalan Ciliwung). Atau kirim via TIKI dengan ongkos kirim ditanggung pembeli. Selain buku kumcer ini kami memiliki buku-buku lainnya dengan harga yang sama: antologi Puisi Rumah Dunia Aku dan Kamu (duet Hadi dan Denny), Surga dalam Cangkir Kopiku, antologi puisi Tebing Cakrawala.
Wassalam DP

| |